Mintarsih Abdul Latief: Kepolisian Tidak ada Tindak Lanjut Terkait Laporan Kecurangan Blue Bird Taxi

Jakarta, Hallaw.com — Spesialis kesehatan mental terkemuka dan salah satu pendiri PT Blue Bird Taxi, Dr. Mintarsih Abdul Latief Sp.KJ, telah melangkah maju dengan tuduhan pelanggaran keuangan oleh dua dari delapan pemegang saham asli. Terdakwa, Almarhum Chandra dan Purnomo, bersama keturunannya, diduga secara rahasia mendirikan PT Blue Bird (tanpa istilah “Taxi”), mengalihkan sumber daya dari perusahaan asli.

Dr. Mintarsih, seorang spesialis dalam bidang psikiatri, mengungkapkan bahwa setelah PT Blue Bird Taxi mencapai ulang tahunnya yang ke-30, kedua pemegang saham dengan diam-diam membentuk PT Blue Bird tanpa istilah “Taxi.” Entitas baru ini diduga memanfaatkan fasilitas dari PT Blue Bird Taxi, termasuk logo, merek, basis pelanggan, peralatan radio dan komunikasi, sistem komputer, peralatan bengkel, gedung utama, kolam renang, dan bahkan para pengemudi dan staf terbaik.

Pembentukan usaha baru dengan modal minimal ini memungkinkan oleh transfer semua fasilitas dari PT Blue Bird Taxi ke PT Blue Bird (tanpa “Taxi”). Perubahan ini dilaporkan merugikan perusahaan asli, yang berfungsi sebagai induk untuk PT Blue Bird Tbk.

Dr. Mintarsih lebih lanjut menjelaskan kehilangan sahamnya di CV Lestiani dan PT Blue Bird Taxi, menekankan bahwa pengunduran dirinya sebagai direktur menyebabkan transfer aset dan sahamnya tanpa izin ke saudara kandungnya, Chandra dan Purnomo.

Dengan menyatakan keprihatinan atas kurangnya jalur hukum yang jelas, Dr. Mintarsih mempertanyakan penghapusan asetnya setelah mengundurkan diri dari peran manajerial. Meskipun melaporkan dugaan pelanggaran tersebut ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), tidak ada tanggapan atau tindak lanjut yang nyata terhadap keluhannya.

Dr. Mintarsih telah mendokumentasikan beberapa ketidakberesan di PT Blue Bird, yang melibatkan masalah saham. Ia telah menyoroti ketidaksesuaian dalam kepemilikan aset, khususnya terkait kepemilikan tanah yang bermasalah. Meskipun telah berupaya keras, kepolisian belum mengambil tindakan apa pun, dan dugaan pelanggaran tetap tidak diatasi.

Dr. Mintarsih, bersama perwakilan hukumnya, mendesak pemerintah dan lembaga penegak hukum untuk segera menyelidiki dan merespons keluhannya. Hingga saat ini, lebih dari tiga bulan sejak Mintarsih mengajukan laporan pada Agustus 2023, tidak ada indikasi kemajuan atau pembaruan terkait investigasi. Dugaan ketidakpatuhan keuangan oleh PT Blue Bird terus menimbulkan kekhawatiran tentang tata kelola perusahaan dan pengawasan hukum di dalam perusahaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *